Wapres: Pentingnya Akal Sehat dan Hati Bersih dalam Memelihara Bangsa

Wapres: Akal Sehat dan Hati Bersih Jadi Penopang Utama Merawat Bangsa

Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin menegaskan bahwa bangsa hanya bisa dijaga dengan akal sehat dan hati yang bersih. Menurutnya, ketika dua hal itu melemah, ruang bagi ketidakrukunan dan konflik justru terbuka lebar. Pesan itu ia sampaikan saat menerima audiensi sejumlah tokoh bangsa di Istana Wapres, Jakarta, Kamis, dalam pertemuan yang juga membahas Gerakan Nurani Bangsa.

Ma’ruf: Konflik Bermula dari Pudarnya Nurani

Ma’ruf menilai persoalan sosial dan politik kerap berakar pada hilangnya kejernihan berpikir serta rapuhnya moral. Ia menyebut suara-suara yang mengingatkan masyarakat untuk kembali pada kebenaran dan kebaikan masih sangat dibutuhkan. Karena itu, kehadiran tokoh lintas agama dan tokoh masyarakat dalam gerakan tersebut dianggapnya penting untuk menjaga arah bangsa tetap tenang di tengah berbagai tekanan.

“Jadi, kehilangan akal sehat, hatinya tidak bersih, ini saya kira yang menjadi sumber terjadinya ketidakrukunan atau terjadinya konflik-konflik,” ujar Wapres. Ia juga mengapresiasi para tokoh yang masih mau terlibat aktif dalam upaya merawat persatuan nasional.

Pemilu 2024 dan Risiko Polarisasi

Salah satu sorotan utama Ma’ruf adalah Pemilu 2024 yang menurutnya berpotensi memunculkan polarisasi di tengah masyarakat. Ia mengingatkan bahwa perbedaan pilihan politik seharusnya tidak berubah menjadi pertentangan yang merusak keutuhan bangsa. Dalam pandangannya, tokoh-tokoh bangsa perlu terus hadir melalui forum, pertemuan, dan seruan moral agar masyarakat tetap berada dalam koridor damai.

Ma’ruf juga menegaskan bahwa perpecahan berarti mengkhianati perjuangan para pendiri bangsa yang berhasil menyatukan keragaman etnik dan agama di masa lalu. Ia menyebut penyatuan itu bukan pekerjaan mudah, apalagi dilakukan pada masa dengan keterbatasan komunikasi dan transportasi.

Gerakan Nurani Bangsa Dorong Keteladanan

Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid menyampaikan keresahannya terhadap situasi menjelang pemilu dan sejumlah konflik yang masih terjadi di Tanah Air, termasuk di Papua. Dari kegelisahan itulah, kata dia, lahir gagasan membentuk Gerakan Nurani Bangsa sebagai ruang bagi para tokoh untuk terus menjaga komitmen terhadap Indonesia.

Menurut Sinta, gerakan tersebut tidak hanya dimaksudkan untuk berbicara, tetapi juga memberi contoh nyata bagi generasi muda. Ia berharap para tokoh bangsa dapat menunjukkan keteladanan dalam merawat negara agar nilai-nilai kebangsaan tidak putus di generasi berikutnya.

Ulama senior Quraish Shihab menambahkan bahwa nurani umat manusia pada dasarnya bertumpu pada tiga hal: keadilan, amanah, dan hormat kepada orang tua. Ia menilai semangat itu selaras dengan nama gerakan yang diusung para tokoh tersebut. Sementara itu, Kardinal Suharyo mengingatkan pentingnya hubungan antara Khalik, makhluk, dan akhlak mulia sebagai dasar moral dalam kehidupan bersama. Menurutnya, tanpa moralitas yang tangguh, berbagai upaya membangun bangsa akan mudah rapuh.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.