Persoalan Kampung Bayam kembali mencuat di tengah kontestasi Pilkada Jakarta 2024. Di hunian sementara Jalan Tongkol, Kelurahan Ancol, Jakarta Utara, Kamis (26/9/2024), calon gubernur Jakarta Pramono Anung datang menemui warga Kampung Susun Bayam dan mendengar langsung keluhan mereka soal kepastian tempat tinggal. Pertemuan itu berlangsung hangat, tetapi juga sarat harapan, karena warga menunggu lebih dari sekadar janji politik.
Dukungan Warga Menguat untuk Pramono-Rano
Kehadiran Pramono disambut antusias oleh warga, termasuk Ketua Kelompok Tani Kampung Bayam Madani, Furqon. Ia menyebut dukungan terhadap pasangan Pramono-Rano Karno cukup kuat di lingkungan warga. Furqon bahkan menegaskan bahwa menurutnya warga Jakarta semestinya memberi pilihan kepada Pramono dalam Pilkada Jakarta 2024.
“Saya rasa se-Jakarta harus pilih Pak Pram,” kata Furqon. Ia juga mengaku pihaknya sudah lebih dulu menelusuri rekam jejak pasangan calon tersebut sebelum menyatakan sikap. Menurutnya, pasangan Pramono-Rano dinilai lebih meyakinkan untuk membawa penyelesaian atas persoalan yang selama ini membelit Kampung Bayam.
Pakta Integritas dan Janji Hunian Layak
Pramono sendiri menyatakan bahwa ia bersama Rano Karno telah menandatangani pakta integritas dengan warga Kampung Susun Bayam sebagai bentuk komitmen untuk membantu mereka mendapatkan hunian yang layak. Ia menegaskan bahwa persoalan Kampung Bayam bukan masalah yang muncul tiba-tiba, melainkan berkaitan dengan proses panjang sejak proyek pembebasan lahan pada 1992.
“Saya dan Bang Doel sudah tanda tangani pakta integritas. Sebagai bukti kami betul-betul berkomitmen menyelesaikan persoalan Kampung Bayam,” ujar Pramono. Ia menambahkan, jika diberi amanah memimpin Jakarta, langkah awal yang akan dilakukan adalah mengundang Jakpro dan wali kota untuk duduk bersama mencari titik temu.
Warga Minta Janji Tidak Berhenti di Kampanye
Dalam sesi tanya jawab, seorang warga bernama Diah menyampaikan langsung kegelisahannya. Ia berharap janji hunian layak benar-benar diwujudkan jika Pramono terpilih, bukan berhenti sebagai ucapan saat kampanye. Menurut Diah, warga sudah terlalu lama menunggu kepastian dan merasa lelah dengan situasi yang tak kunjung selesai.
“Harapan kami mudah-mudahan setelah nanti Bapak naik, janji tidak hanya sekadar janji, tapi dilaksanakan. Karena kami di sini sudah sangat lelah,” kata Diah. Suara warga seperti ini menegaskan bahwa Kampung Bayam bukan sekadar isu administrasi atau pembangunan, melainkan persoalan hidup yang menyangkut tempat tinggal, kepastian, dan hak dasar warga.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
