Diabetes merupakan salah satu masalah kesehatan yang terus meningkat di Indonesia dan di seluruh dunia. Menurut International Diabetes Federation (IDF), sekitar 19,5 juta orang dewasa di Indonesia mengidap diabetes, menjadikan negara ini sebagai salah satu dari lima negara dengan kasus diabetes tertinggi di dunia. IDF Diabetes Atlas juga mencatat bahwa jumlah penderita diabetes diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 853 juta pada tahun 2050, dengan lebih dari 40% dari mereka bahkan tidak menyadari kondisinya.
Negara-negara dengan kasus diabetes tertinggi di dunia antara lain China, India, Pakistan, Amerika Serikat, dan Indonesia. Data menunjukkan bahwa peningkatan kasus diabetes dan obesitas di Indonesia erat kaitannya dengan pola konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak. Faktor-faktor ini telah menyebabkan angka obesitas di Indonesia meningkat dua kali lipat dalam 15 tahun terakhir, menurut data Riset Kesehatan Dasar.
Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) dapat meningkatkan risiko diabetes, obesitas, penyakit jantung, dan kematian dini. Konsumsi rutin MBDK oleh dua dari tiga orang Indonesia telah terbukti berkontribusi pada meningkatnya risiko penyakit kronis. Hal ini juga membuat beban pembiayaan BPJS Kesehatan untuk penyakit terkait obesitas dan diabetes meningkat drastis dalam lima tahun terakhir.
Untuk mengatasi masalah ini, Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) mendorong pemerintah untuk menerapkan kebijakan pelabelan gizi di bagian depan kemasan dan memberlakukan cukai untuk MBDK. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mengendalikan konsumsi gula, garam, dan lemak serta menekan angka diabetes dan obesitas di Indonesia sesuai dengan target pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025-2029.
