Mainan kosmetik untuk anak memiliki daya tarik sendiri dengan kemasan yang lucu dan warna yang cerah. Namun, dibalik keindahannya, terdapat risiko yang perlu diwaspadai terkait kesehatan kulit dan pertumbuhan anak. Menurut dokter spesialis kulit, Dr. Fitria Agustina, kulit anak, terutama bayi hingga pra-remaja, jauh lebih tipis dan rentan daripada kulit orang dewasa. Hal ini membuat bahan kimia dalam kosmetik lebih mudah diserap dan dapat memicu reaksi negatif pada kulit anak.
Dalam sebuah webinar yang digelar oleh BPOM, Fitria mengungkapkan bahwa kulit anak dapat menyerap zat berbahaya dengan lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih besar karena fungsi perlindungan kulitnya yang belum sempurna. Akibat penggunaan kosmetik yang tidak aman, gejala umum yang muncul meliputi ruam, iritasi, dan dermatitis kontak. Bahkan, beberapa bahan kimia seperti paraben berlebih, logam berat, dan pewarna sintetik dapat memengaruhi sistem hormon anak, termasuk hormon pertumbuhan.
Fitria juga menyoroti tren di media sosial yang menampilkan anak-anak menggunakan makeup sebagai hiburan atau konten. Hal ini dapat membuat anak-anak terpapar dan tergoda untuk mencoba produk kosmetik dewasa tanpa pengawasan. Oleh karena itu, penting untuk menggunakan kosmetik anak yang aman dan sesuai dengan usia, serta menghindari bahan-bahan berbahaya seperti merkuri, hidroquinone, phthalates, formaldehyde, dan pewangi berlebihan.
Tips yang disarankan oleh dr. Fitria untuk para orang tua dalam memilih kosmetik anak antara lain adalah memilih produk berlabel khusus anak, hypoallergenic, dan sudah memiliki nomor notifikasi BPOM. Hindari juga kosmetik dengan warna atau aroma yang mencolok, gunakan kosmetik sesederhana mungkin, dan jangan menggunakan kosmetik dewasa pada anak. Selain itu, penting untuk memberikan edukasi pada anak agar mereka tidak sembarangan memilih atau menggunakan kosmetik tanpa pertimbangan. Hal ini akan membantu anak menjadi konsumen yang cerdas di kemudian hari.

