Tren Kenaikan Bunuh Diri Lansia di Korea: Mengapa?
Di Korea Selatan, lonjakan kasus bunuh diri di kalangan lansia kembali menyorot sisi paling rapuh dari masyarakat yang menua cepat. Dalam periode 2019 hingga 2023, hampir 10 lansia berusia 65 tahun ke atas dilaporkan meninggal karena bunuh diri setiap hari. Temuan ini memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan mental pada kelompok usia lanjut bukan lagi isu pinggiran, melainkan krisis yang terus membesar.
Angka yang Menunjukkan Tekanan Serius
Mengutip Korea Herald, total 18.044 lansia di Korea Selatan mengakhiri hidupnya dalam lima tahun tersebut. Jumlah itu berarti lebih dari 3.000 kematian setiap tahun. Di balik angka tersebut, tersimpan gambaran tentang kelompok masyarakat yang kerap menghadapi beban hidup dalam diam, tanpa cukup ruang untuk mencari pertolongan lebih awal.
Studi itu juga memberi sinyal bahwa pencegahan masih menghadapi hambatan besar. Banyak lansia enggan mendatangi layanan psikiatris sebelum mencoba bunuh diri. Sebagian baru mencari bantuan setelah satu kali atau beberapa kali percobaan, ketika kondisi mereka sudah jauh lebih kritis.
Depresi, Kesepian, dan Beban Hidup yang Menumpuk
Tekanan yang dialami lansia di Korea Selatan tidak datang dari satu sumber. Depresi pada usia lanjut sering dipicu oleh kehilangan pasangan, masalah keuangan, rasa sepi yang berkepanjangan, konflik keluarga, hingga perasaan bersalah karena dianggap membebani anak atau kerabat. Dalam banyak kasus, perasaan itu bertumpuk dan dibiarkan tanpa penanganan memadai.
Selain faktor psikologis dan sosial, penyakit fisik kronis juga ikut memperburuk keadaan. Kondisi kesehatan yang menurun dapat membuat lansia semakin bergantung pada orang lain, sekaligus memperbesar rasa tidak berdaya. Kombinasi inilah yang membuat risiko bunuh diri di kelompok usia lanjut menjadi sangat tinggi.
Negara yang Menua, Tantangan yang Makin Besar
Menurut Statistik Korea, jumlah penduduk lansia di negara itu telah melampaui 10 juta orang pada November lalu. Angka tersebut setara dengan sekitar 19,5 persen dari total populasi Korea Selatan yang kini berusia 65 tahun ke atas. Dengan proporsi sebesar itu, persoalan kesehatan mental dan fisik pada lansia jelas tidak bisa dipandang sebagai kasus individual semata.
Data ini menegaskan bahwa Korea Selatan sedang berhadapan dengan tantangan ganda: populasi yang terus menua dan kebutuhan perlindungan yang belum sepenuhnya menjangkau mereka yang paling rentan. Di tengah perubahan demografi yang cepat, perhatian terhadap kesehatan mental lansia menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda lebih lama.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
