BRIN: Tempe Bermanfaat Kesehatan dan Mendukung Program Swasembada Pangan
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan bahwa fermentasi kedelai menjadi tempe memiliki berbagai manfaat kesehatan bagi manusia. Tak hanya itu, tempe juga dianggap dapat memperkuat kemandirian pangan dan mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, menekankan bahwa tempe memiliki sifat antidiare, antidiabetik, antihipertensi, antikanker, antioksidan, dan antibakteri.
Menurut Puji Lestari, pengembangan pangan fungsional seperti tempe sangat penting untuk mendukung kesehatan masyarakat. Sementara itu, Kepala PRTPP BRIN, Satriyo Krido Wahono, menyebutkan bahwa tempe menjadi salah satu komoditas superfood utama yang akan diteliti lebih dalam dalam riset BRIN tahun depan. Riset tentang tempe dinilai memiliki potensi besar mengingat Indonesia memiliki biodiversitas tinggi yang dapat memberikan berbagai alternatif sumber protein untuk menghasilkan produk tempe.
Dalam upaya mendukung ketahanan pangan dan kesehatan, Periset PRTPP BRIN, Andri Frediansyah, menjelaskan bagaimana mikroba dan teknologi bioproses berperan dalam meningkatkan kandungan isoflavon aglikon dalam kedelai. Isoflavon aglikon adalah bentuk isoflavon yang lebih mudah diserap oleh tubuh. Frediansyah juga menyebutkan berbagai teknologi, seperti ko-fermentasi, proses germinasi, teknologi ultrasound, high pressure processing, dan pulsed electric field, yang dapat memicu konversi isoflavon menjadi bentuk aglikon. Teknologi-teknologi ini diharapkan dapat membantu dalam meningkatkan kandungan aglikon dalam produk berbasis kedelai.
Dengan demikian, tempe tidak hanya dianggap sebagai makanan yang lezat, namun juga memiliki manfaat kesehatan yang signifikan dan mendukung program swasembada pangan. Riset dan inovasi dalam pengembangan tempe diharapkan dapat memberikan kontribusi yang besar dalam upaya menghasilkan pangan fungsional dan superfood berbasis biodiversitas Indonesia.

