Pasar kurma global sedang dalam sorotan karena ditemukan bahwa beberapa kurma asal Israel, termasuk yang berasal dari permukiman di Tepi Barat, diduga dijual di Eropa dengan label asal yang disembunyikan. Berbagai laporan industri dan investigasi media di Eropa menunjukkan bahwa praktik ini dilakukan untuk menyamarkan asal produksi kurma tersebut, yang disebut sebagai date laundering. Nilai pasar kurma dunia diprediksi akan terus meningkat hingga 2034, dengan dominasi industri ini oleh kawasan Timur Tengah dan Afrika. Mesir menjadi produsen terbesar kurma di dunia, diikuti oleh Arab Saudi dan Iran.
Israel, sebagai salah satu produsen kurma terkenal dengan varietas Medjool, dapat mengekspor sekitar 35.000 ton kurma per tahun. Hanya sekitar 8.800 ton di antaranya diproduksi di wilayah yang diakui secara internasional. Data menunjukkan bahwa sebagian besar ekspor kurma Israel diduga berasal dari perkebunan di permukiman Tepi Barat. Aturan labeling khusus Uni Eropa mensyaratkan agar produk dari permukiman Israel mencantumkan asal wilayah permukiman secara jelas.
Di tengah kampanye boikot terhadap Israel, sejumlah ritel besar mulai mempertimbangkan kembali kebijakan pengadaan produk dari negara tersebut. Meskipun demikian, sektor pertanian Israel menghadapi tekanan akibat gangguan logistik dan dampak dari boikot yang semakin meluas. Para pengamat menyarankan konsumen Eropa untuk lebih teliti dalam memeriksa informasi asal produk, terutama untuk kurma premium seperti Medjool yang banyak beredar di pasar.
