Angka kesuburan Singapura turun signifikan ke angka terendah yaitu 0,87 pada 2025, menurut Wakil Perdana Menteri Gan Kim Yong di parlemen pada Kamis (26/2/2026). Tingkat kesuburan Negeri Singa turun di bawah 1,0 untuk pertama kalinya pada tahun 2023 menjadi 0,97, menurut laporan CNA. Kondisi tersebut semakin memburuk pada 2025 saat tingkat kesuburan mencapai rekor terendah baru di angka 0,87.
Menurut laporan, meskipun ada imigrasi, pertumbuhan populasi Singapura melambat selama 10 tahun terakhir. Gan Kim Yong mengungkapkan bahwa jika tidak ada tindakan baru yang diambil, populasi warga negara akan mulai menyusut pada awal tahun 2040-an. Dengan asumsi angka kelahiran total tetap di 0,87, setiap 100 penduduk saat ini hanya akan memiliki 44 anak dan 19 cucu.
Strategi Singapura dalam mengatasi penurunan angka kelahiran melibatkan perubahan mendasar dalam pernikahan dan pengasuhan anak. Menteri di Kantor Perdana Menteri Indranee Rajah menyatakan bahwa negara perlu mengubah pandangan dan dukungan terhadap pernikahan dan pengasuhan anak, menyesuaikan tempat kerja untuk mendukung keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga, serta melibatkan semua orang dalam mendukung langkah-langkah ini.
Pemerintah Singapura juga akan mempertimbangkan peningkatan cuti perawatan anak dan memberikan lebih banyak dukungan bagi orang tua terkait biaya. Selain itu, kebijakan penerimaan hingga 30.000 warga negara baru setiap tahun dalam lima tahun ke depan akan disesuaikan dengan tren demografi, termasuk angka kelahiran total yang terus menurun. Singapura berupaya keras untuk membalikkan tren tersebut dan menjaga keberlangsungan penduduk di masa depan.
