Energi hijau di Kota Makassar telah menjadi perbincangan yang hangat, terutama melalui transportasi khas seperti pete-pete. Meski masa kejayaan pete-pete dianggap telah berlalu dengan munculnya layanan transportasi baru, namun praktik menggunakan energi yang lebih murah secara tidak langsung turut menyokong gagasan besar mengenai energi hijau.
Penggunaan gas elpiji sebagai sumber tenaga kendaraan pete-pete telah menjadi pilihan sejumlah sopir, termasuk Yunus, untuk mengurangi biaya operasional. Meskipun tanpa standar keselamatan yang jelas, praktik ini telah menarik perhatian dan bahkan beberapa sopir lain turut belajar dan mengikuti jejak Yunus.
Namun tidak dipungkiri bahwa penggunaan gas elpiji untuk kendaraan adalah praktik abu-abu dan berpotensi melanggar aturan. Meskipun ada manfaat dalam hal pengurangan emisi, namun risiko keamanan dengan penggunaan gas elpiji yang tidak standar tetap menjadi perhatian.
Penting bagi pemerintah dan otoritas terkait untuk memberikan solusi yang aman dan terjangkau bagi para sopir angkot, serta memastikan akses terhadap energi bersih tidak hanya menjadi hak segelintir pihak. Waktu terus berjalan, namun respons dan keputusan yang tepat mutlak diperlukan agar upaya menuju energi hijau di Makassar bisa berlangsung dengan baik dan terarah.
