Black Langues dan Kolaborasi Memukau di Mataraman Rockfest
Pada Minggu malam, panggung utama Alun-alun Ponorogo dibanjiri sorak penonton saat Black Langues tampil dalam acara Mataraman Rockfest. Momen kolaborasi antara band rock asal Yogyakarta tersebut dengan seniman Reog Ponorogo mencuri perhatian ratusan penonton yang hadir. Distorsi gitar, dentuman drum, slompret, dan kendang Reog menyatu dalam satu kesatuan musikal yang unik.
Konsep Kolaborasi Black Langues dan Reog Ponorogo
Black Langues, yang terdiri dari Michael Aaron Donisputro, Muhammad Haidar, dan Valentino Austin, membawakan lagu-lagu karya sendiri termasuk “Reset” yang dikolaborasikan dengan seni Reog. Persiapan mereka hanya dilakukan selama dua jam sebelum tampil di panggung. Ide menggabungkan musik rock dengan unsur tradisional Reog sudah ada sejak jauh sebelum tiba di Ponorogo.
Saat bertemu dengan seniman Reog, proses adaptasi alat musik modern dan tradisional membutuhkan waktu. Namun, kolaborasi tersebut berhasil menemukan keharmonisan berkat pemahaman teori musik dan semangat untuk saling belajar.
Sukses Menyatukan Dua Dunia Musik
Ketua Dewan Kesenian Ponorogo, Wisnu HP, menyatakan bahwa kolaborasi Black Langues dan Reog Ponorogo bukan hanya pertunjukan musik biasa. Mereka berhasil menyatukan dua dunia musik yang berbeda, menciptakan momen unik dan menarik. Menurut Wisnu, hal ini merupakan upaya pelestarian budaya yang kreatif agar generasi muda tetap tertarik dan terlibat dalam seni tradisional.
Black Langues sendiri menyematkan filosofi kuat dalam nama mereka, yang mencerminkan semangat untuk menyampaikan pesan-pesan melalui musik. Dengan gaya punk rock alternatif mereka, band ini menyuarakan keresahan, kritik sosial, dan pesan moral melalui lagu-lagu yang enerjik dan bermakna.
Di Mataraman Rockfest, kolaborasi antara Black Langues dan Reog Ponorogo memberikan bukti bahwa tradisi dan modernitas bisa bersatu dalam satu panggung, menghadirkan pengalaman musikal yang tak terlupakan bagi penonton.
