Krisis Kesehatan Akibat Kebakaran Hutan: Lansia Rentan
Kebakaran hutan telah membuktikan bahwa krisis lingkungan bisa berubah menjadi krisis kesehatan dengan cepat. Hal ini menjadi nyata terutama bagi lansia, yang rentan terhadap dampak karhutla. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah menerapkan strategi komprehensif untuk melindungi lansia dari dampak karhutla ini.
Lansia Rentan Terhadap Dampak Kesehatan
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menyatakan bahwa kebakaran hutan pada 2026 telah menyebabkan dampak kesehatan serius, terutama bagi lansia. Asap karhutla yang mengandung partikel halus PM2.5 dan PM10 dapat mempengaruhi kesehatan paru-paru lansia secara signifikan.
Hingga akhir Agustus, lebih dari 50 ribu kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) terjadi, dengan sebagian besar kasus terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun, termasuk lansia. Data resmi menunjukkan bahwa sekitar 3,8 juta lansia tinggal di delapan provinsi terdampak karhutla, menegaskan kerentanan yang harus diatasi.
Dampak Kesehatan yang Diderita Lansia
Dampak karhutla bagi lansia sangat bervariasi, mulai dari gangguan pernapasan akut hingga kronis, penyakit kardiovaskular, hingga risiko penyakit lainnya seperti diabetes, gagal ginjal, dan gangguan neurologis. Penyakit kronis ini semakin diperparah akibat stres oksidatif yang disebabkan oleh asap karhutla.
Studi menunjukkan bahwa angka kematian mendadak pada lansia meningkat selama dan setelah kebakaran hutan. Dampak psikososial juga sangat berat, seperti stres, depresi, dan isolasi sosial akibat evakuasi dan kehilangan rumah.
Langkah Kemenkes dalam Menghadapi Masalah
Untuk mengatasi masalah ini, Kemenkes telah menyiapkan pos pelayanan kesehatan di berbagai lokasi, dilengkapi dengan peralatan medis, obat-obatan, dan oksigen. Distribusi masker secara massif dilakukan, dan surveilans kesehatan terus dipantau untuk mengetahui tren ISPA pada lansia.
Edukasi kepada caregiver juga diutamakan, termasuk pemberian informasi terkait penggunaan masker, hidrasi rutin, pembatasan aktivitas fisik berat, dan pengetahuan akan tanda bahaya kesehatan. Menempatkan lansia sebagai prioritas dalam strategi mitigasi karhutla menjadi hal yang penting untuk mengurangi risiko komplikasi dan kematian.




