Jakarta kembali menjadi panggung pembicaraan strategis antara Indonesia dan Australia. Dalam pertemuan di Jakarta, Jumat, Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto dan Gubernur Jenderal Australia David Hurley tidak hanya berbicara soal hubungan bilateral, tetapi juga menyoroti satu program yang dinilai punya dampak panjang: pertukaran kadet militer. Program ini disebut telah melahirkan generasi pemimpin yang memahami karakter, budaya, dan lingkungan strategis kedua negara.
Pertukaran Kadet yang Bertahan 50 Tahun
Selama setengah abad, Akademi Militer (Akmil) di Magelang, Jawa Tengah, dan Royal Military College (RMC) Australia saling mengirim kadet atau taruna. Skema ini bukan sekadar program pendidikan, melainkan jembatan yang membentuk kedekatan militer Indonesia-Australia dari generasi ke generasi.
Prabowo menegaskan bahwa manfaat program tersebut terasa nyata karena para alumninya tumbuh menjadi perwira yang tidak hanya kuat secara profesional, tetapi juga memiliki pemahaman yang lebih luas tentang mitra mereka. Ia menyebut pertukaran itu sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun hubungan pertahanan yang stabil.
Prabowo dan Hurley Sama-Sama Alumni
Menariknya, pertemuan itu juga diwarnai pengakuan bahwa Prabowo dan Hurley pernah sama-sama mengikuti program pertukaran kadet pada 1974. Keduanya disebut merasakan langsung dampak dari pengalaman tersebut, yang menurut Prabowo membentuk pemahaman lintas negara sejak dini.
“Saya dan Gubernur Jenderal Hurley sama-sama merasakan manfaat yang besar dari program ini,” kata Prabowo dalam pertemuan di kediaman resmi Duta Besar Australia untuk Indonesia di Jakarta.
75 Tahun Hubungan Diplomatik Jadi Sorotan
Selain membahas kerja sama pertahanan, Prabowo juga menyinggung peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Australia pada 2024. Ia menyebut momen itu sebagai tonggak sejarah yang menandai panjangnya relasi kedua negara, sekaligus pengingat bahwa kerja sama yang dibangun perlu terus dijaga.
Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menyampaikan terima kasih atas undangan Hurley. Ia menilai kesempatan itu penting untuk memperkuat hubungan kedua negara, terutama di tengah dinamika keamanan regional dan global yang terus berubah.
Di akhir pertemuan, Prabowo menyerahkan plakat dan buku berjudul Military Leadership kepada Hurley. Sebagai balasan, Hurley memberikan buku Peter Fitzsimons – Gallipoli serta foto bangunan RMC Duntroon dengan catatan tangan bertuliskan, “To fond memories and strong bonds.” Pertukaran cendera mata itu menjadi penutup yang menegaskan bahwa hubungan Indonesia-Australia tak hanya dibangun lewat diplomasi formal, tetapi juga lewat pengalaman pribadi yang bertahan puluhan tahun.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
