Gejala Covid-19 varian XEC, Biang Kerok Lonjakan Kasus Baru

Meski status pandemi telah dicabut, Covid-19 belum benar-benar hilang dari perhatian para ilmuwan. Varian baru bernama XEC kini ikut disorot karena dinilai punya kemampuan menyebar lebih cepat dan berpotensi mendorong lonjakan kasus baru di sejumlah negara. Di tengah situasi yang tampak lebih tenang dibanding beberapa tahun lalu, kemunculan varian ini kembali mengingatkan bahwa virus corona masih terus berevolusi.

XEC Mulai Dipantau di Sejumlah Negara

Melansir BBC International, varian Covid-19 XEC yang merupakan turunan Omicron pertama kali teridentifikasi di Jerman pada Juni 2024. Setelah itu, varian ini mulai dilaporkan muncul di Inggris, Amerika Serikat, Denmark, dan beberapa negara lain. Direktur Scripps Research Translational Institute di California, AS, Eric Topol, menilai XEC masih berada di tahap awal penyebaran, tetapi berpotensi menjadi dominan dalam beberapa waktu ke depan.

“Itu membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga beberapa bulan sebelum benar-benar menguasai dan mulai menimbulkan gelombang. XEC pasti akan mengambil alih,” kata Topol, dikutip Kamis (19/9/2024). Ia menambahkan, untuk mencapai tingkat penyebaran yang tinggi, varian ini tetap membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Gejala XEC Mirip Flu dan Pilek

Para ahli menyebut gejala Covid-19 varian XEC tidak jauh berbeda dari keluhan infeksi saluran pernapasan ringan. Tanda-tanda yang paling umum dilaporkan meliputi demam tinggi, nyeri tubuh, kelelahan, batuk, dan sakit tenggorokan. Karena mirip flu atau pilek, gejala ini kerap dianggap sepele pada tahap awal.

Situasi tersebut membuat kewaspadaan tetap diperlukan, terutama ketika banyak orang tidak lagi rutin melakukan tes seperti pada masa puncak pandemi. Dengan gejala yang serupa penyakit pernapasan lain, deteksi dini menjadi lebih sulit jika hanya mengandalkan kondisi fisik tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

Kenaikan Kasus Sulit Dipetakan

Analis data Covid-19, Mike Honey, mengungkapkan bahwa XEC menunjukkan pertumbuhan kasus yang cukup signifikan di Denmark dan Jerman. Namun, ia juga menyoroti bahwa menurunnya tingkat pengujian rutin membuat gambaran sebaran kasus tidak lagi sejelas sebelumnya. Artinya, jumlah infeksi yang tercatat bisa jadi tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan.

Wakil Direktur UK Health Security Agency (UKHSA), Dr. Gayatri Amirthalingam, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan varian Covid yang muncul di Inggris maupun negara lain. Menurutnya, perubahan genetik pada virus merupakan hal yang normal dan memang diperkirakan terjadi seiring waktu. “Merupakan hal yang normal dan diperkirakan virus akan berubah secara genetik seiring berjalannya waktu,” ujarnya.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.