Menjelang Pilkada 2024, dorongan agar warga menggunakan hak pilih secara bijak kembali mengemuka. Di tengah persaingan politik yang kian mengeras, LDII menekankan pentingnya karakter dan integritas sebagai fondasi dalam menentukan arah kepemimpinan, terutama di Jakarta yang tengah mencari identitas baru setelah perubahan statusnya.
Karakter Luhur dan Etos Kepemimpinan
Senada dengan Supriasto, Pramono Anung, Sekretaris Tim Pemenangan RK-Suswono Basri Baco, dan Kun Wardana turut memberi respons positif terhadap prinsip karakter luhur yang dinilai relevan untuk pendidikan generasi muda. Bagi mereka, sikap alim, fakih, dan mandiri bukan sekadar nilai moral, melainkan juga selaras dengan etos kerja yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di ruang publik dan pemerintahan.
Dalam pandangan itu, seseorang yang berkiprah sebagai pekerja profesional dituntut memiliki komitmen dan integritas. Dua hal tersebut dianggap mencerminkan budi pekerti sekaligus menjadi ukuran bagaimana seseorang menjalankan tanggung jawabnya. Pesan ini menjadi penting di tengah kebutuhan akan pemimpin yang bukan hanya cakap berbicara, tetapi juga konsisten dalam tindakan.
Jakarta Butuh Identitas yang Kuat
Pramono menyinggung perubahan Undang-Undang Nomor 24 terkait Jakarta yang kini bukan lagi ibu kota negara. Menurut dia, kondisi itu membuat Jakarta perlu menegaskan kembali posisinya sebagai kota besar yang memiliki identitas sendiri. Dalam konteks tersebut, integritas mendasar juga berkaitan dengan karakter Jakarta yang berbudaya sekaligus global.
Karena itu, Pramono menilai hubungan LDII dengan pemerintah seharusnya terjalin dekat. Ia menegaskan bahwa LDII tidak cukup hanya berhubungan dengan Kesbangpol, tetapi juga perlu menjadi mitra strategis pemerintah dalam berbagai kegiatan dakwah dan pembinaan masyarakat, khususnya untuk menghadirkan dampak positif bagi warga Jakarta.
Ulama dan Pemerintah dalam Satu Arah
Para calon pemimpin Jakarta tersebut juga sepakat bahwa kerja sama antara ulama dan pemerintah merupakan salah satu bentuk penerapan “29 Karakter Luhur” dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai itu dipandang bukan sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan sudah melekat dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi dasar dalam membangun masyarakat yang lebih tertib, beradab, dan bertanggung jawab.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
