Koordinasi RI-Malaysia: Respons Kebijakan Tarif Resiprokal AS

Di tengah memanasnya kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat, Indonesia dan Malaysia memilih merespons dengan satu kata kunci: koordinasi. Bukan lewat langkah yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan melalui penguatan posisi ASEAN sebagai kawasan yang harus tampil lebih solid menghadapi ketidakpastian perdagangan global.

Airlangga Bertemu Dua Petinggi Malaysia

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan kunjungan ke Malaysia untuk membahas respons atas kebijakan tarif tersebut. Pada hari pertama lawatannya, Airlangga bertemu dengan Wakil Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi. Pertemuan itu menjadi ruang awal untuk menelaah perkembangan kebijakan tarif yang dikeluarkan AS dan dampaknya bagi kawasan.

Di hari kedua, Airlangga melanjutkan agenda dengan bertemu Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim. Pembicaraan keduanya tidak hanya berfokus pada isu tarif, tetapi juga pada penguatan kerja sama ekonomi Indonesia-Malaysia, termasuk dorongan agar Malaysia makin kuat sebagai tujuan investasi, pariwisata, dan perdagangan di kawasan.

ASEAN Didorong Lebih Kompak Hadapi Ketidakpastian Global

Dalam pertemuan itu, Airlangga dan Anwar menegaskan bahwa tantangan ekonomi global tidak bisa dihadapi secara terpisah. Ketidakpastian perdagangan, termasuk akibat kebijakan Presiden Trump, dinilai menuntut ASEAN untuk memperkuat komunikasi dan sikap bersama.

Indonesia dan Malaysia juga sepakat memanfaatkan Perjanjian Kerangka Kerja Perdagangan dan Investasi atau TIFA sebagai salah satu instrumen untuk mengoptimalkan perdagangan timbal balik serta menjalankan berbagai bentuk kerja sama dengan Amerika Serikat. Di tengah tekanan tarif, kedua negara menekankan pentingnya menjaga hubungan yang tetap konstruktif dan saling menguntungkan dengan Washington.

Perkuat Posisi ASEAN di Indo-Pasifik

Selain membahas relasi dengan AS, kedua pihak juga menyoroti pentingnya memperkuat ekonomi regional ASEAN. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga daya tawar kawasan di tengah dinamika Indo-Pasifik yang semakin kompetitif.

Seluruh negara ASEAN diharapkan dapat bersinergi membangun komunikasi dan engagement yang kuat dengan Pemerintah AS. Dengan cara itu, kepentingan ekonomi negara-negara kawasan diharapkan tetap terlindungi, sekaligus membuka ruang bagi hubungan dagang yang lebih stabil dan saling menguntungkan.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.