Spirit Hari Kartini: Peran Gender dan Emansipasi Dosen IAI Al-Khairat Pamekasan
Hari Kartini kembali menjadi pengingat bahwa emansipasi perempuan tidak berhenti pada slogan atau seremonial tahunan. Lebih dari itu, emansipasi harus hadir sebagai ruang yang memberi perempuan kesempatan tumbuh, berdaya, dan tetap menjaga jati dirinya. Pandangan ini disampaikan dosen Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan, Aizun Riski Safitri, yang menilai perjuangan perempuan hari ini masih relevan untuk dibicarakan dengan cara yang lebih utuh dan mendalam.
Emansipasi Bukan Sekadar Hak Formal
Menurut Aizun, emansipasi tidak cukup dimaknai sebagai pemberian hak secara administratif. Yang lebih penting adalah terciptanya lingkungan yang memungkinkan perempuan berkembang tanpa dibatasi oleh sekat-sekat gender. Ia menekankan bahwa perempuan yang memahami makna emansipasi akan mampu memberi dampak positif, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi masyarakat dan generasi setelahnya.
Dalam pandangan itu, perempuan tidak diposisikan untuk meninggalkan identitasnya, melainkan untuk berkembang secara seimbang. Esensi emansipasi, kata dia, justru terletak pada kemampuan perempuan untuk maju tanpa kehilangan peran dan nilai yang melekat pada dirinya.
Kesetaraan Gender dan Pandangan Islam
Aizun juga menyoroti bahwa tujuan emansipasi adalah menghadirkan kedudukan perempuan yang sejajar dengan laki-laki. Perspektif ini, menurutnya, sejalan dengan ajaran Islam yang menempatkan perempuan pada posisi terhormat. Karena itu, pembahasan soal kesetaraan tidak seharusnya berhenti pada perdebatan, melainkan diarahkan pada pemahaman yang lebih bijak tentang peran masing-masing.
Ia menilai persoalan peran gender kerap memunculkan silang pendapat, terutama ketika pemahaman tentang kesetaraan masih minim. Dalam situasi seperti itu, edukasi menjadi penting agar masyarakat tidak salah membaca makna perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan.
Peran Perempuan dalam Keluarga dan Masyarakat
Dalam penjelasannya, Aizun menekankan pentingnya kesadaran perempuan, terutama generasi penerus, untuk menjalani fungsi sesuai kodratnya. Perempuan diharapkan mampu mengemban peran sebagai ibu dan pendidik dengan baik, selaras dengan ajaran Islam yang menempatkan keluarga sebagai ruang awal pembentukan karakter generasi.
Semangat Kartini, dalam konteks ini, bukan hanya soal perjuangan historis, tetapi juga tentang keberanian perempuan masa kini untuk mengambil peran, tanpa kehilangan arah dan nilai dasar yang menjadi kekuatan dirinya. Sejarah Indonesia pun telah mencatat banyak sosok perempuan inspiratif, seperti Cut Nyak Dien dan RA Kartini, yang memperlihatkan bahwa perjuangan perempuan selalu memiliki tempat penting dalam perjalanan bangsa.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
