Sound Horeg: dari Jalanan ke Ikon Kultur Pop Malang

Sound Horeg: Dari Jalanan ke Ikon Kultur Pop Malang

Dentuman sound system yang dikenal sebagai Sound Horeg kini tak lagi sekadar dianggap hiburan keliling. Di Kabupaten Malang, fenomena ini tumbuh menjadi bagian dari perayaan warga, meramaikan panggung terbuka, pesta rakyat, hingga berbagai agenda desa yang kian rutin digelar. Bagi sebagian masyarakat, Sound Horeg sudah berubah menjadi penanda zaman: keras, meriah, dekat dengan warga, dan lekat dengan suasana keramaian khas pedesaan.

Dari Hiburan Jalanan ke Identitas Baru

Popularitas Sound Horeg menunjukkan bahwa hiburan publik di Malang terus mengalami pergeseran. Ia tidak berdiri sendiri sebagai tren lokal, melainkan lahir dari pertemuan antara memori kolektif warga terhadap hiburan massa, pengaruh globalisasi musik, dan perubahan infrastruktur desa. Jejak budaya sound system yang telah berkembang sejak era 1970-an di Jamaika ikut memberi gambaran bahwa fenomena seperti ini punya akar panjang, meski bentuknya kini menyesuaikan kebutuhan dan selera masyarakat setempat.

Di banyak wilayah pedesaan Malang, Sound Horeg hadir dalam karnaval dan perayaan tahunan. Kehadirannya sering menjadi daya tarik utama karena mampu mengumpulkan massa dan membangun suasana pesta yang hidup. Namun, di balik antusiasme itu, tak sedikit pula suara yang mempertanyakan dampaknya, terutama ketika dentuman suara berlangsung hingga larut malam dan berpotensi mengganggu ketertiban umum.

Antara Ekspresi Budaya dan Pro-Kontra Warga

Perdebatan soal Sound Horeg sebenarnya memperlihatkan satu hal penting: hiburan rakyat selalu bergerak di antara ruang ekspresi dan ruang pembatas. Bagi pendukungnya, Sound Horeg adalah bentuk kebudayaan lokal yang sah, tumbuh dari kebutuhan masyarakat akan hiburan bersama. Sementara bagi pihak yang terganggu, volume suara yang berlebihan bisa menjadi persoalan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Situasi ini membuat Sound Horeg tidak mudah dipandang hanya dari satu sisi. Ia bukan semata soal kerasnya suara, tetapi juga soal bagaimana masyarakat menegosiasikan ruang publik, tradisi pesta, dan aturan ketertiban. Karena itu, pembahasan tentang Sound Horeg kerap meluas dari urusan hiburan menjadi persoalan sosial yang lebih besar.

Potensi Ekonomi yang Tak Bisa Diabaikan

Di balik pro dan kontra tersebut, Sound Horeg juga menyimpan nilai ekonomi yang cukup besar. Aktivitas penyewaan sound system membuka ruang usaha bagi banyak komunitas, sekaligus menciptakan rantai ekonomi di sekitar penyelenggaraan acara. Dalam konteks ini, Sound Horeg bukan hanya panggung bunyi-bunyian, melainkan bagian dari ekosistem yang melibatkan jasa, konsumsi, dan perputaran uang di tingkat lokal.

Karena itu, gagasan untuk mengintegrasikan Sound Horeg ke dalam agenda seni dan budaya daerah secara resmi dinilai relevan. Pembentukan koperasi atau dewan seni desa juga dipandang bisa menjadi salah satu jalan agar kegiatan ini lebih tertata, punya arah pembinaan, dan tidak semata dibiarkan berjalan tanpa kendali. Dengan pengaturan yang tepat, fenomena yang lahir dari jalanan ini bisa tetap hidup tanpa mengorbankan ketertiban masyarakat.

Pada akhirnya, Sound Horeg menunjukkan bahwa kultur pop daerah tidak selalu lahir dari panggung besar atau industri formal. Dari Malang, ia hadir sebagai cermin perubahan selera hiburan, medan tarik-menarik antara tradisi dan modernitas, sekaligus pengingat bahwa setiap dentuman suara selalu membawa konsekuensi sosial yang harus diatur dengan cermat.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.