Kasus kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri, Arya Daru Pangayunan, kembali mengerucut setelah Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) memberi sinyal bahwa titik terang soal penyebab kematian akan segera dipaparkan. Penjelasan itu muncul seiring pendalaman penyelidikan yang tidak hanya bertumpu pada hasil autopsi, tetapi juga jejak digital yang berhasil ditemukan tim penyidik.
Autopsi dan Jejak Digital Mulai Saling Menguatkan
Kompolnas menilai ada perkembangan penting dalam proses penelusuran kasus ini. Menurut Anam, celah yang dimaksud berasal dari hasil autopsi yang dilakukan secara sangat rinci oleh tim dokter forensik. Pemeriksaan tersebut kemudian dipadukan dengan temuan digital, meski ponsel milik Arya Daru belum ditemukan secara fisik.
Di tengah proses yang masih berjalan, rangkaian temuan itu disebut semakin memperjelas gambaran mengenai apa yang terjadi sebelum kematian ADP. Anam menyebut evaluasi hari ini membuat misteri kasus tersebut kian terurai, karena penyidik tidak berhenti pada aspek medis semata, melainkan juga menautkannya dengan data digital yang sudah dianalisis.
CCTV dan WhatsApp Jadi Bagian Penting
Menurut Anam, penyidik juga membandingkan momen-momen yang terekam kamera pengawas dengan percakapan melalui WhatsApp. Dari perbandingan ilmiah yang detail itu, urutan peristiwa disebut mulai terbaca lebih jelas. Langkah ini dinilai penting karena membantu menyusun kembali kronologi sebelum kematian Arya Daru.
“Momen yang terlihat pada CCTV, serta percakapan melalui pesan WhatsApp semuanya telah dibandingkan. Dengan pendekatan perbandingan ilmiah yang detail, urutan peristiwa telah terungkap,” tegas Anam.
Ia menambahkan, rangkaian penelusuran tersebut memberikan kejelasan yang cukup mengenai kasus kematian diplomat muda itu. Meski belum seluruhnya dibuka ke publik, Kompolnas memastikan hasil pendalaman sejauh ini sudah mengarah pada penjelasan yang lebih utuh.




