Sebuah survei terbaru dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa mayoritas orang Indonesia tidak suka dan jarang mengganti kata kunci (password) untuk menjaga keamanan akun digital mereka. Survei ini melibatkan 8.700 WNI berusia minimal 13 tahun dan dilakukan pada April-Juni 2025. Hasilnya menunjukkan bahwa 73,14% responden tidak pernah atau jarang mengganti password mereka.
Banyak dari responden yang tidak mengganti password mereka mengaku tidak tahu atau merasa tidak perlu menggantinya. Alasan lain termasuk khawatir lupa kata sandi baru, merasa sudah aman, dan tidak tahu cara mengganti password. Meskipun demikian, sebagian responden menyukai menggunakan pola, kombinasi angka, sidik jari, atau kata sandi yang kuat dan unik untuk menjaga keamanan akun dan perangkat mereka.
Terkait dengan frekuensi mengganti password, sebagian besar responden mengaku tidak mengganti password kecuali saat mendapatkan notifikasi atau ketika merasa akun mereka terancam diretas. Sebagian lain mengaku mengganti password satu kali dalam setahun atau dalam jangka waktu yang lebih pendek. Beberapa responden juga menyukai menggunakan autentikasi dua tingkat/lapis (two-factor authentication/2FA) untuk menjaga keamanan akun mereka.
Melihat kebiasaan ini, penting bagi masyarakat Indonesia untuk sadar akan pentingnya mengganti password secara berkala dan menggunakan metode keamanan yang sesuai untuk melindungi akun dan informasi pribadi mereka dari risiko keamanan cyber. Dengan meningkatkan kesadaran dan edukasi mengenai praktik keamanan internet yang baik, diharapkan bahwa masyarakat akan lebih proaktif dalam menjaga keamanan digital mereka di masa yang akan datang.
