Normalisasi Kali Ciliwung kembali jadi sorotan setelah Pemerintah Provinsi Jakarta menegaskan proyek ini akan dikebut sebagai salah satu penanganan banjir jangka menengah. Pramono sebelumnya menyebut Ciliwung berkontribusi sekitar 40 persen terhadap banjir di Jakarta, angka yang membuat pengerjaan sungai ini tak lagi bisa ditunda terlalu lama.
Proyek lama yang kembali didorong
Normalisasi Sungai Ciliwung sejatinya bukan program baru. Proyek ini sudah berjalan sejak era Gubernur DKI Joko Widodo, namun prosesnya tersendat dalam beberapa tahun terakhir. Kendala utama datang dari penolakan sebagian warga di bantaran sungai serta belum tuntasnya relokasi di sejumlah titik. Meski begitu, kerja sama antara Pemerintah Provinsi Jakarta dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tetap dipertahankan agar penataan sungai bisa dilanjutkan.
33,69 kilometer masuk rencana normalisasi
Berdasarkan data Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jakarta pada Juli 2025, rencana normalisasi tanggul Sungai Ciliwung mencakup total 33,69 kilometer. Dari panjang tersebut, 17,14 kilometer sudah berhasil dinormalisasi. Artinya, masih ada 16,55 kilometer lagi yang harus dikejar untuk menuntaskan target yang sudah lama tertunda.
Di lapangan, pembebasan lahan menjadi kunci. Pemprov Jakarta menetapkan 14 lokasi prioritas hingga 2027, dengan nama-nama seperti Kebon Manggis, Kampung Melayu, Bidara Cina, Manggarai, dan Bukit Duri masuk daftar utama. Selain itu, empat lokasi lain yang juga telah ditetapkan adalah Cawang, Cililitan, Pengadegan, dan Rawajati. Daftar ini menunjukkan bahwa pekerjaan normalisasi bukan sekadar pengerukan atau penataan tanggul, tetapi juga proses sosial dan administratif yang cukup rumit.
Pembebasan lahan jadi penentu arah proyek
Dengan sisa pekerjaan yang masih panjang, pembebasan lahan diperkirakan menjadi faktor paling menentukan apakah normalisasi bisa berjalan sesuai jadwal. Selama proses relokasi belum selesai, pekerjaan fisik di banyak titik akan tetap bergerak lambat. Karena itu, Pemprov Jakarta menempatkan 2026 sebagai tahun mulai dikerjakannya pembebasan lahan dan normalisasi secara lebih serius, terutama di titik-titik yang selama ini menjadi hambatan utama.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
