Alergi makanan pada anak bukan hanya masalah kesehatan biasa, tetapi juga dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak di masa depan. IDAI menyoroti pentingnya mengidentifikasi dan mengatasi alergi makanan dengan benar agar tidak berdampak negatif pada generasi emas Indonesia 2045. Menurut Ketua Umum IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, anak-anak yang sering kali mengalami alergi makanan dapat mengganggu pertumbuhan mereka dan berpotensi menghambat tercapainya generasi emas 2045.
Dalam seminar media dengan tema “Alergi Makanan pada Anak: Bagaimana Mengenali dan Mengatasinya”, dr. Endah Citraresmi, Subspesialis Alergi Imunologi, menjelaskan bahwa prevalensi alergi makanan semakin meningkat secara global. Prevalensi alergi makanan diperkirakan antara 2%-10% pada populasi umum, namun lebih tinggi pada anak di bawah lima tahun. Di Indonesia sendiri, meskipun data nasional belum tersedia, tren peningkatan kasus alergi makanan sudah mulai terlihat.
Alergi makanan dapat menyebabkan reaksi serius, bahkan anafilaksis yang dapat mengancam nyawa. Selain itu, alergi makanan juga memengaruhi kualitas hidup anak, menimbulkan stres dan kecemasan pada orangtua, serta berpotensi memengaruhi pertumbuhan anak jika diet yang dipilih tidak tepat. Pentingnya diagnosis yang tepat juga disoroti oleh dr. Endah, yang menekankan bahwa tidak semua gejala diare atau dermatitis atopik merupakan alergi makanan.
Untuk mendiagnosis alergi makanan, dokter biasanya menggunakan tes kulit atau pemeriksaan darah, namun uji provokasi makanan di bawah pengawasan medis adalah metode yang paling pasti. Prinsip utama dalam penanganan alergi makanan adalah menghindari alergen dan memastikan anak mendapat gizi seimbang. IDAI berharap seminar ini dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang alergi makanan sehingga orang tua bisa mengatasi alergi pada anak dengan benar demi kesehatan anak-anak Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
