Amad Diallo kembali jadi sorotan setelah Lee Sharpe menilai pemain muda itu belum benar-benar tampil pada level terbaiknya. Menurut Sharpe, masalah utama bukan semata pada kualitas Diallo, melainkan pada pergeseran posisi yang terlalu sering membuatnya sulit menemukan tempo permainan. Di bawah skema Ruben Amorim, Diallo kerap dipasang sebagai sayap, wing-back, hingga nomor 10, dan situasi itu dianggap mengganggu konsistensinya di lapangan.
Terus Berganti Peran, Ritme Diallo Terganggu
Sharpe menilai seorang pemain muda membutuhkan kepastian peran agar bisa berkembang dengan stabil. Ketika terlalu sering dipindahkan, menurut dia, pemain akan kesulitan membangun kebiasaan bermain yang cocok dengan karakter terbaiknya. Dalam kasus Diallo, perubahan posisi yang berulang disebut membuat sentuhannya tidak seefektif saat ia tampil di area yang paling nyaman baginya.
Ia juga menyoroti tugas berat ketika Diallo dimainkan sebagai wing-back. Posisi itu menuntut kontribusi besar dalam bertahan, sehingga energi pemain terkuras sebelum sempat maksimal membantu serangan. Dampaknya, Diallo dinilai tidak lagi leluasa memanfaatkan kecepatannya di area depan, yang justru menjadi salah satu kekuatan utamanya.
Sayap Dinilai Paling Cocok
Sharpe menyebut posisi alami Diallo seharusnya berada di sisi sayap, bukan terlalu jauh ke dalam sebagai nomor 10. Saat ditempatkan di tengah, ruang geraknya menjadi lebih sempit dan tugasnya berubah cukup jauh dari karakter permainan yang biasa ia tunjukkan. Inilah yang membuat penampilannya terlihat kurang menonjol di bawah pendekatan Amorim.
Penilaian ini sekaligus menggambarkan tantangan yang dihadapi Amorim dalam meramu formasi dan memaksimalkan pemain muda seperti Diallo. Bagi Sharpe, kunci agar Diallo berkembang bukan pada jumlah posisi yang bisa ia isi, melainkan pada satu peran yang jelas dan berulang agar kepercayaan dirinya ikut terbangun.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
