Bulan suci Ramadan selalu diidentikan dengan ibadah sedekah dan zakat. Namun, di Uni Emirat Arab, momen penuh empati ini dimanfaatkan oleh sindikat pengemis profesional. Beberapa orang bahkan masuk ke UAE dengan visa kunjungan jangka pendek hanya untuk mengemis selama bulan suci Ramadan. Dalam penangkapan terbaru, polisi menemukan sebuah fakta mencengangkan di mana seorang pria yang ditangkap karena mengemis ternyata memiliki tiga mobil mewah.
Tidak hanya itu, kasus lain juga menunjukkan pengemis yang menyembunyikan 25.000 dirham dan memanfaatkan seorang anak balita untuk mengumpulkan uang dalam berbagai mata uang hanya dalam hitungan hari. Beberapa sindikat bahkan memaksa anak-anak turun ke jalan untuk meminta-minta alih-alih pergi sekolah, yang dianggap sebagai tindakan ilegal berdasarkan hukum lokal.
Selain praktik pengemisan di jalan, pengemisan elektronik juga semakin meningkat dengan penipuan yang memanfaatkan kecerdasan buatan atau AI. Modus operandi penipu meliputi pembuatan konten palsu berbasis simpati, seperti menciptakan adegan rumah sakit palsu, rekayasa laporan medis, manipulasi gambar anak sakit, dan bahkan menggunakan pesan suara AI untuk memancing empati.
Untuk mengatasi hal ini, unit kejahatan siber di UAE kini menggunakan alat forensik digital untuk melacak konten berbasis AI dan membongkar jaringan penipuan tersebut. Otoritas setempat mengingatkan warga untuk tidak memberikan uang tunai langsung kepada individu di jalan karena hal ini dapat membiayai kejahatan terorganisir dan merugikan anak-anak yang dieksploitasi. Oleh karena itu, pemberian donasi sebaiknya disalurkan melalui lembaga amal resmi dan berlisensi agar manfaatnya tepat sasaran dan terverifikasi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
