Sebuah sejarah baru telah tercipta di tanah Melayu, khususnya di Pekanbaru. Langit kota tersebut seolah menjadi saksi bisu atas kemegahan warisan leluhur ketika sebanyak 6.080 orang berkumpul dan menari Zapin Meskom secara serempak. Acara ini tidak hanya menjadi catatan rekor berdasarkan jumlah peserta, tetapi juga menjadi ikonik karena seluruh peserta mengenakan busana tradisional Kebaya Laboh Kekek.
Disebut sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia, Zapin Meskom menjadi simbol kebangkitan budaya Melayu yang masih kokoh di dalam hati masyarakat. Peserta dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pelajar, pegawai pemerintahan, hingga masyarakat umum, tampak anggun dalam balutan Kebaya Laboh Kekek yang melambangkan kesantunan dan marwah perempuan Melayu.
Saat musik gambus mulai mengalun dan marwas dipukul, lapangan tempat acara berlangsung berubah menjadi pemandangan warna-warni yang bergerak secara harmonis. Gerakan kaki yang lincah dan teknik khas Zapin Meskom dilakukan dengan presisi oleh ribuan peserta sekaligus.
Salah satu daya tarik utama dari acara ini adalah penggunaan Kebaya Laboh Kekek. Berbeda dengan kebaya biasa, Kebaya Laboh memiliki potongan longgar yang menjuntai hingga ke lutut, mencerminkan nilai-nilai islami yang melekat pada budaya Melayu. Penambahan “Kekek” (bagian kain di bawah ketiak) memberikan ruang gerak yang nyaman bagi para penari, sambil tetap terlihat elegan.
Pemecahan rekor dengan 6.080 penari ini diharapkan tidak hanya menjadi catatan nasional (MURI), tetapi juga menjadi pesan kepada dunia bahwa Bengkalis adalah pusat peradaban budaya Melayu yang progresif. Bagi yang tidak dapat hadir di lokasi, Rumahlaila.my.id telah merangkum momen magis tersebut dalam dokumentasi galeri foto eksklusif.
