Jalanan Jakarta tiba-tiba sepi dengan gedung-gedung tinggi yang seakan-akan terlantar, ditinggalkan oleh banyak penduduk yang kembali ke kampung halaman mereka. Di tengah fenomena exodus tahunan ini, media sosial ramai dengan sebuah pernyataan yang menarik perhatian dan penuh makna: “Jakarta kini menyisakan pemain utama”. Frasa tersebut menggambarkan realitas kuat tentang individu yang memilih bertahan di tengah sunyi ibu kota.
Mereka yang menjadi “pemain utama” adalah orang-orang yang memilih untuk tetap tinggal di Jakarta. Mereka menahan kerinduan akan kampung halaman demi menyelesaikan tugas pekerjaan, menjaga kehidupan kota tetap berjalan, dan yang terpenting, berjuang untuk memastikan dapur keluarga tetap hangat untuk menyambut hari kemenangan.
Salah satu dari “pemain utama” ini adalah Dasman, seorang pria paruh baya asal Padang, Sumatera Barat. Meskipun banyak orang dari Padang bersiap-siap untuk pulang kampung bersama, Dasman tetap tenang mengemudi bus Transjakarta. Setiap harinya, ia melintasi jalanan ibu kota yang kini mulai lengang, melayani rute 1H yang menghubungkan Tanah Abang dan Stasiun Gondangdia.
Setelah hampir satu tahun, tepatnya sembilan bulan, Dasman bekerja sebagai pramudi bus kota dengan pakaian rapi. Sebelumnya, ia menghabiskan bertahun-tahun mengemudi truk pengangkut barang lintas daerah. Pengalaman panjangnya mengemudikan kendaraan berat tersebut kini dimanfaatkan untuk membantu mobilitas penduduk Jakarta, bahkan di saat sebagian besar orang bersiap untuk merayakan Idul Fitri.
Tahun ini adalah Lebaran kedua berturut-turut bagi Dasman tanpa ritual pulang kampung. Keputusan ini diambil setelah pertimbangan matang dan realistis. Bertahan di Jakarta dan bekerja saat libur Lebaran memberinya kesempatan untuk mendapatkan uang lembur yang berharga.
Membaca kisah Dasman ini menjadi pengingat bagi kita bahwa kadang-kadang menjadi “pemain utama” dengan bertahan di tempat yang sulit bisa memberikan keberkahan tersendiri. Keberanian dan keuletan seperti itu patut dihargai, dan menjadi contoh bagi banyak orang.
