Perundingan AS-Iran Terhenti, Konflik di Selat Hormuz Semakin Memanas
Jakarta – Perang sengit antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menemui kebuntuan di bulan ketiga, dengan perundingan damai yang terus mengalami hambatan. Gencatan senjata yang diperpanjang sejak 7 April belum menunjukkan progres kesepakatan antara kedua pihak.
Negosiasi Tertahan di Islamabad
Meski AS dan Iran telah melakukan putaran negosiasi perdamaian di Islamabad pada 11 hingga 12 April, namun kesepakatan masih sulit dicapai. Beberapa isu krusial seperti Selat Hormuz, blokade pelabuhan Iran oleh AS, dan hak Iran untuk pengayaan uranium masih menjadi sengketa utama.
Pada tanggal 30 April, Iran melalui Pakistan, menyerahkan proposal perdamaian berisi 14 poin yang menekankan pentingnya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, Presiden AS Donald Trump menolak usulan tersebut sebagai “tidak dapat diterima”.
Blokade Selat Hormuz
Selat Hormuz merupakan jalur vital untuk distribusi minyak mentah dunia. Jalur ini menjadi poin perdebatan antara AS dan Iran, dengan Trump memberlakukan blokade laut terhadap Iran semenjak 13 April. Iran, di sisi lain, berupaya menciptakan “tatanan baru” di Selat Hormuz untuk menangkal tekanan AS.
Trump kemudian mengumumkan Project Freedom, sebuah operasi AS untuk membantu kapal yang terhambat di Selat Hormuz. Sementara itu, sekutu Eropa diambang keputusan untuk ikut campur dalam konflik tersebut.
Kapal Iran Lolos dari Blokade
Meski blokade pelabuhan Iran, kapal tanker Iran berhasil meloloskan diri dari Selat Hormuz hingga ke perairan Indonesia. Dengan dukungan China dan Rusia, Iran masih memiliki potensi untuk menghadapi AS meskipun Trump sudah mulai kehilangan dukungan publik di dalam negeri.
Situasi di Selat Hormuz menunjukkan bahwa perundingan antara AS-Israel dan Iran masih jauh dari sempurna. Sementara AS terus mencari strategi keluar dari konflik, Iran tampak akan terus melawan untuk kepentingannya.
