Tingginya Harga Tiket Pesawat Membuat Sektor Pariwisata Sulsel Terguncang
Makassar (ANTARA) – Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Sulsel, Didi L Manaba, mengungkapkan bahwa tingginya harga tiket pesawat telah membuat penurunan kunjungan wisatawan di Sulawesi Selatan. Hal ini telah menekan sektor pariwisata di daerah tersebut.
Kenaikan Harga Tiket dan Dampaknya
Didi menyatakan bahwa kenaikan harga tiket pesawat dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat telah memberikan dampak yang signifikan terhadap sektor pariwisata di Sulsel. Pengurangan frekuensi penerbangan dari sejumlah maskapai juga telah berdampak pada minat perjalanan wisata dan kunjungan wisatawan, terutama wisatawan domestik yang mengandalkan transportasi udara.
Dampak dari situasi ini tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha perjalanan wisata, namun juga oleh sektor perhotelan, restoran, dan pelaku UMKM yang bergantung pada kunjungan wisatawan. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya biaya operasional penerbangan akibat mahalnya komponen impor dan bahan bakar yang dipengaruhi oleh pelemahan rupiah.
Harapan dan Tindakan
Wakil Ketua Umum Kadin Sulsel, Satriya Madjid, menyatakan bahwa pelemahan rupiah juga mulai menekan berbagai sektor usaha, termasuk pariwisata dan perhotelan, yang sangat bergantung pada mobilitas udara. Pelaku usaha berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas ekonomi dan memberikan dukungan terhadap sektor pariwisata melalui kebijakan yang mendukung konektivitas penerbangan dan penguatan wisata domestik.
Sejumlah pelaku industri juga mendorong promosi destinasi wisata lokal agar masyarakat tetap memilih berwisata di dalam negeri meskipun kondisi ekonomi global masih belum stabil.
Sebagai gambaran, salah satu destinasi wisata di kawasan karst Rammang-Rammang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan juga mulai terdampak dari kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara yang mengandalkan transportasi udara dengan harga tiket yang naik dari kondisi normal.
