Gubernur Papua Selatan: “Rumah Jew” Sebagai Simbol Budaya Asmat
Sebuah kegiatan diskusi yang dihadiri oleh Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo, dengan masyarakat Ewer menjadi momentum penting setelah meresmikan “Rumah Jew” di Kabupaten Asmat. Menurut Safanpo, “Rumah Jew” bukan hanya struktur fisik belaka, tetapi juga menyimpan nilai-nilai luhur dari budaya Asmat.
Pusat Pendidikan Informal dan Musyawarah
Safanpo menekankan bahwa “Rumah Jew” memiliki peran ganda sebagai pusat pendidikan informal bagi generasi muda. Di sini, mereka dapat belajar tata krama, adat istiadat, serta keterampilan tradisional seperti mengukir, menari, dan menganyam. Selain itu, “Rumah Jew” juga menjadi tempat musyawarah bagi tokoh adat dan warga dalam menyelesaikan persoalan serta merencanakan langkah strategis demi kemajuan kampung.
Simbol Persatuan dan Identitas
Bagi Suku Asmat, “Rumah Jew” bukan sekadar bangunan fisik, melainkan jantung kehidupan dan identitas sakral yang harus dijaga bersama. Safanpo menekankan pentingnya menjadikan “Rumah Jew” sebagai simbol persatuan dan semangat gotong royong di Kabupaten Asmat untuk mencegah kepunahan di tengah arus perkembangan zaman.
“Rumah Jew” atau rumah bujang merupakan rumah adat khas Suku Asmat. Bangunan ini berbentuk rumah panggung persegi panjang dengan material kayu dan atap dari daun pohon sagu atau nipah yang dianyam. Uniknya, dalam konstruksi “Rumah Jew” tidak menggunakan paku melainkan akar rotan sebagai penghubung, dengan panjang mencapai 30-50 meter dan memiliki banyak pintu, masing-masing mewakili sebuah klan di kampung.
Dengan asumsi jalan klan secara simbolis mengarahkan pembahasannya, “Rumah Jew” menjadi tempat penting bagi kegiatan adat dan musyawarah di tengah masyarakat Asmat. Inilah wujud konkret dari nilai-nilai budaya yang dijunjung tinggi dan harus dilestarikan untuk generasi mendatang.
