BEC 2026: Memadukan Nilai Historis, Budaya Lokal, dan Fashion Global
Parade Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) tahun 2026 kembali digelar dengan penuh spektakuler. Ajang yang mempertontonkan beragam busana tema “Perang Bayu” ini sukses menyihir ribuan penonton dengan kekayaan budaya dan nilai historis yang terkandung di dalamnya.
Perpaduan Etnis dan Modernitas dalam BEC
BEC tahun ini menampilkan berbagai seni dan budaya khas Banyuwangi mulai dari Kuntulan Ewon, Tari Seblang, Gandrung, Jaranan Buto, hingga Barong. Parade kostum dengan berbagai konsep menegaskan pesan bahwa globalisasi tidak boleh mengaburkan kekayaan budaya lokal yang harus dilestarikan.
Ratusan peserta dengan kostum “Perang Bayu” berjalan sepanjang 2 kilometer, memukau hadirin dan wisatawan yang hadir. Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani menegaskan pentingnya kemajuan sebagai sarana untuk melestarikan warisan nenek moyang.
Warisan Sejarah dalam Pesan BEC 2026
Dengan mengangkat tema Perang Bayu, BEC tahun ini tidak hanya sekadar parade busana biasa. Ini adalah penghormatan terhadap perjuangan dahulu dalam melawan kolonialisme. Ketua PD AMAN Osing Banyuwangi, Wiwin Indiarti, menekankan pentingnya revitalisasi nilai-nilai perjuangan agar kesadaran kolektif dalam menjaga tanah air semakin tumbuh.
Hasan Basri, Ketua DKB, menegaskan bahwa BEC adalah jendela utama untuk memperkenalkan keindahan budaya Banyuwangi ke dunia internasional. Dengan sentuhan modern namun tetap mengakar pada nilai lokal, parade ini menjadi megah dan unik.
Sebagai momen penting yang memadukan nilai historis, budaya lokal, dan fashion global, BEC 2026 memberikan pesan yang kuat tentang keberagaman yang harus dijaga dan dilestarikan. Berada pada tahun ke-14, BEC semakin menegaskan posisinya sebagai ajang karnaval budaya terbesar di Banyuwangi yang selalu dinantikan.




