Misteri Tradisi Jawa yang Tersembunyi

Hanung Bramantyo kembali menghadirkan sebuah karya film yang penuh keberanian dan sarat makna lewat Gowok: Kamasutra Jawa. Film ini mengangkat tradisi unik masyarakat Jawa yang nyaris terlupakan, yaitu peran seorang gowok, perempuan yang mengajarkan calon pengantin laki-laki tentang seni kehidupan rumah tangga dan hubungan intim. Dengan latar budaya Jawa yang kental, Hanung berhasil menyajikan cerita yang menggugah sekaligus memancing refleksi penonton tentang nilai-nilai sosial dan budaya.

Gowok berlatar belakang tahun 1950-an hingga 1980-an di sebuah desa kecil bernama Bumirejo, Kebumen. Cerita berfokus pada Ratri, seorang gadis muda yang diasuh dan dididik oleh Nyai Santi, sosok gowok legendaris yang dihormati di komunitasnya. Sejak kecil, Ratri dididik untuk menjadi gowok, yaitu perempuan yang memiliki tugas khusus mengajarkan pria mengenai kepuasan seksual dan cara menjaga keharmonisan rumah tangga.

Namun, kehidupan Ratri berubah drastis ketika ia jatuh cinta pada Kamanjaya, seorang pria dari keluarga terpandang yang ternyata berkhianat padanya. Kisah cinta dan pengkhianatan ini meninggalkan luka mendalam dan membentuk jalan hidup Ratri selanjutnya. Puluhan tahun kemudian, Kamanjaya kembali ke desa dengan membawa putranya, Bagas, yang ingin belajar ilmu gowok dari Nyai Santi. Tanpa menyadari hubungan masa lalu orang tuanya, Bagas justru jatuh cinta pada Ratri. Situasi ini kemudian dimanfaatkan Ratri untuk mengambil kesempatan membalas dendam atas masa lalunya yang penuh luka.

Film ini membawa penonton menyelami berbagai lapisan cerita tentang tradisi, cinta, pengkhianatan, dan kekuatan seorang perempuan yang berjuang mempertahankan martabat dan haknya di tengah budaya patriarki yang kuat.

Pemeran utama dalam film ini adalah Raihaanun sebagai Nyai Ratri, Lola Amaria sebagai Nyai Santi, Reza Rahadian sebagai Kamanjaya, Ali Fikry sebagai Bagas, Djenar Maesa Ayu, Slamet Rahardjo, Devano Danendra, Nayla Purnama, dan Alika Jantinia.

Film ini dirilis di bioskop Indonesia pada hari ini 5 Juni 2025. Hanung Bramantyo menghadirkan dua versi film: versi yang lebih ringan dengan rating 17+ serta versi asli dengan rating 21+ yang lebih eksplisit dan sesuai dengan visi aslinya. Keputusan ini diambil agar film bisa dinikmati oleh audiens yang lebih luas tanpa kehilangan esensi cerita yang ingin disampaikan.

Source link