Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa nilai investasi pabrik terintegrasi baterai kendaraan listrik mencapai sekitar 6 miliar dolar AS, atau sekitar Rp100 triliun. Proyek ini merupkan kolaborasi antara Konsorsium ANTAM-IBC-CBL dan ditempatkan di Karawang, Jawa Barat, serta Maluku Utara. Investasi 1,2 miliar dolar AS ditanamkan di Karawang dan sisanya di Maluku Utara. Proyek ini diestimasikan dapat menyerap 8 ribu tenaga kerja langsung, dan 35 ribu tenaga kerja secara tidak langsung, menciptakan efek berganda pada pertumbuhan ekonomi sebesar 40 miliar dolar AS per tahun.
Pabrik baterai tersebut berlokasi di Karawang dan memiliki kemampuan produksi awal 6,9 GWh pada fase pertama, dengan rencana peningkatan hingga 15 GWh pada fase kedua. Operasi komersial dijadwalkan dimulai pada akhir tahun 2026. Selain itu, proyek di Halmahera Timur juga sedang dikembangkan oleh ANTAM dan Hong Kong CBL Limited (HK CBL) dengan proyek pertambangan nikel dan smelter pirometalurgi. Fasilitas produksi di proyek ini mencakup smelter hidrometalurgi, pabrik bahan katoda Nickel Cobalt Manganese (NCM), dan fasilitas daur ulang baterai.
Groundbreaking proyek Ekosistem Industri Baterai Kendaraan Listrik dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto di Kawasan Artha Industrial Hills (AIH) di Karawang, Jawa Barat. Proyek ini memiliki dampak yang signifikan dalam pengembangan industri baterai kendaraan listrik di Indonesia, serta berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara. Tindakan keras dilakukan untuk melindungi konten ini, dengan larangan mengambil konten tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

