Industri kosmetik Indonesia, termasuk produk kecantikan dan perawatan pribadi, terus mengalami pertumbuhan yang signifikan di tengah tantangan ekonomi pada tahun 2025. Diperkirakan nilai pasar kosmetik di Indonesia akan mencapai Rp 158 triliun, didorong oleh peningkatan minat masyarakat terhadap produk kecantikan lokal dan kemudahan akses informasi dalam era digitalisasi.
Tren produk kecantikan juga semakin berkembang ke arah produk yang ramah lingkungan, menggunakan bahan alami, minim bahan kimia, dan kemasan yang tidak merusak alam. Bhumi Skincare merupakan salah satu contoh brand lokal yang memperhatikan hal ini.
Menurut Co-Founder dan COO Bhumi, Ahmad Rashed, penggunaan bahan alami menjadi salah satu kekuatan Bhumi sebagai brand skincare lokal. Mereka berhasil menawarkan produk dengan kemasan mewah namun tetap dengan harga yang terjangkau. Bhumi juga terus melakukan inovasi dengan melakukan riset mendalam untuk formula produknya dan mendatangkan bahan baku impor.
Bagaimana strategi pengembangan kosmetik Bhumi? Informasi lengkapnya dapat ditemukan dalam sesi dialog antara Andi Shalini dengan Co-Founder dan COO Bhumi, Ahmad Rashed, dalam program Closing Bell di CNBC Indonesia (Kamis, 27 November 2025).

