Menyambut datangnya bulan Ramadan, kurma selalu menjadi primadona yang paling dicari oleh umat Muslim. Buah manis ini seolah menjadi hidangan wajib yang tidak boleh absen dari meja makan saat waktu berbuka puasa tiba. Kepopuleran kurma bukan tanpa alasan, sebab buah ini kaya akan nutrisi yang sangat dibutuhkan tubuh setelah seharian berpuasa. Kandungan elektrolit alami, seperti kalium dan magnesium, berperan krusial dalam mengembalikan energi serta menjaga keseimbangan cairan tubuh agar tetap terhidrasi dengan baik. Namun, di balik manfaatnya, konsumen perlu lebih jeli dalam memilih produk yang beredar di pasaran. Mengingat Israel merupakan salah satu eksportir kurma terbesar secara global, masyarakat kini diimbau untuk lebih teliti dalam mengecek asal-usul produk. Hal ini berkaitan erat dengan aksi solidaritas melalui gerakan boikot terhadap produk yang mendukung atau berasal dari Israel sebagai bentuk kepedulian atas konflik yang masih berlangsung di Gaza, Palestina.
Masyarakat diimbau untuk memeriksa label nama perusahaan yang mengekspor kurma asal Israel pada kemasan. Berikut adalah perusahaan-perusahaan pengekspor kurma Israel yang harus dihindari, antara lain Hadiklaim, Mehadrin, Agrexco, Arava, Edom, dan MTex. Sungguh ironis bahwa Israel, sebagai salah satu pemain terbesar di pasar kurma global dan hanya kalah satu posisi di bawah Arab Saudi, menjadi negara kedua dengan nilai ekspor kurma terbesar di dunia menurut laporan Statista.
Untuk menghindari kesalahan dalam membeli kurma dari Israel, Palestine Campaign memberikan empat langkah yang bisa dilakukan masyarakat Muslim di seluruh dunia. Di antaranya, memeriksa label saat membeli kurma, tidak membeli kurma yang mencantumkan Hadiklaim pada labelnya, dan berhati-hati terhadap perusahaan seperti Mehadrin, MTex, Edom, Agrexco, dan Arava yang mengekspor kurma dari Israel dan pemukiman ilegal. Partisipasi dalam boikot produk-produk Israel menjadi bagian dari dukungan terhadap kemerdekaan Palestina, terutama pada bulan Ramadan ini.
