Sebanyak 1.900 kapal komersial terjebak di Selat Hormuz dan Teluk Persia karena AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Teheran telah menutup jalur perairan strategis ini bagi kapal-kapal yang terkait dengan negara penyerang, menghentikan lalu lintas maritim di selat tersebut. Kapal-kapal yang bersiap untuk melintasi selat tidak bisa melanjutkan perjalanan akibat ketegangan militer, dengan sebagian besar kapal yang tertahan menjatuhkan jangkar di perairan terbuka.
Dalam situasi ini, kapal dari negara selain AS dan Israel masih diizinkan untuk melintasi Selat Hormuz selama tidak terlibat dalam agresi terhadap Iran dan mematuhi aturan keselamatan. Data menunjukkan sekitar 1.900 kapal tidak dapat bergerak di sekitar Selat Hormuz, termasuk kapal curah, kapal pengangkut minyak, dan kapal tanker minyak mentah. Sekitar 190 juta barel minyak mentah dan produk minyak berada di atas kapal tanker yang terjebak.
Penutupan lalu lintas maritim ini telah berdampak pada pasar pelayaran dan tarif angkutan. Ketegangan di kawasan juga turut mendorong kenaikan tarif angkutan, terutama pada pasar kapal tanker minyak. Biaya bahan bakar yang meningkat dan biaya tambahan darurat oleh perusahaan pelayaran juga berkontribusi pada kenaikan tarif tersebut.
Salah seorang analis maritim menyebutkan bahwa sekitar 30 persen ekspor minyak global, 4 persen kargo curah kering, dan 3 persen volume kontainer melintasi Selat Hormuz dalam kondisi normal. Meskipun sebagian ekspor dari Teluk Persia dapat dialihkan ke jalur alternatif, sebagian besar volume kargo tidak dapat ditangani oleh jalur darat. Sekitar 5,5 persen armada kapal tanker dunia dan 1,5 persen armada kapal kontainer kargo kering saat ini bermuar di kawasan Teluk Persia.
