Yoghurt beku sering menjadi pilihan camilan favorit atau hidangan penutup yang segar dan nikmat, mirip dengan es krim. Menurut Julie Stefanski, seorang ahli diet terdaftar di Baltimore dan juru bicara untuk Academy of Nutrition and Dietetics, masih ada kebingungan apakah yoghurt beku lebih sehat daripada es krim atau memiliki nilai gizi yang sama. Es krim biasanya mengandung susu atau krim, pemanis, dan perisa. Untuk disebut sebagai “es krim,” makanan tersebut harus memiliki minimal 10 persen lemak susu dari susu atau krim. Biasanya, es krim komersial juga mengandung penstabil dan pengemulsi untuk memberikan tekstur lembut.
Di sisi lain, yoghurt beku biasanya dibuat dari susu kultur yang telah melalui proses fermentasi dengan paparan kultur aktif hidup. Emily Villaseca, seorang ahli diet-nutrisi terdaftar di Dallas dan pendiri Pass the Chia, menjelaskan bahwa yoghurt beku juga mengandung pemanis, perisa, penstabil, dan pengemulsi. Meskipun lebih rendah lemak, yoghurt beku seringkali mengandung gula lebih banyak daripada es krim biasa, dan hanya sedikit lebih tinggi proteinnya.
Ketika memilih antara es krim dan yoghurt beku, penting untuk memperhatikan kandungan kalori, lemak, dan gula. Stefanski merekomendasikan memilih item porsi tunggal seperti es krim yoghurt beku daripada mengambil sembarangan dari kemasan besar. Villaseca menyarankan untuk memilih yoghurt beku dengan kandungan gula tambahan tidak lebih dari 10 gram per sajian, serta menambahkan buah segar dan kacang-kacangan yang kaya nutrisi sebagai tambahan.
Kedua makanan ini dapat menjadi bagian dari diet sehat dengan memperhatikan pilihan dan frekuensi konsumsi. Kesadaran akan apa yang dikonsumsi sepanjang hari dapat membantu menentukan pilihan terbaik antara es krim dan yoghurt beku sebagai makanan penutup yang sehat.
