Kekurangan SDM Keamanan Siber di Asia-Pasifik, Termasuk Indonesia
Studi global dari perusahaan penyedia konsultasi dan solusi keamanan siber, Kaspersky, menyoroti bahwa kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, mengalami kekurangan sumber daya manusia yang berkualitas di bidang keamanan siber. Hampir setengah dari responden global (42%) menunjukkan hal tersebut, dengan dampak pada organisasi di kawasan tersebut yang kesulitan mendapatkan tenaga kerja yang mumpuni untuk mengurangi risiko serangan dan menjaga hubungan tepercaya.
Fokus Penting: Keamanan Rantai Pasokan
Kepala Pusat Operasi Keamanan Kaspersky, Sergey Soldatov, menekankan bahwa keamanan rantai pasokan harus diperhatikan secara serius oleh organisasi. Ketika tim keamanan kekurangan staf, prioritas jangka pendek harus diutamakan, sehingga membuat organisasi rentan terhadap ancaman yang dapat berseliweran melalui penyedia mereka. Untuk itu, dibutuhkan strategi mitigasi yang terintegrasi dan konsisten untuk mengatasi masalah ini.
Hambatan dan Masalah Struktural
Salah satu hambatan utama yang dihadapi organisasi adalah kurangnya staf keamanan TI yang berkualitas. Hal ini membuat monitoring terhadap kerentanan pihak ketiga di ekosistem mereka menjadi sulit dilakukan secara konsisten. Di Asia-Pasifik, persentase organisasi yang mengalami kesulitan dalam hal ini bervariasi dari 34% hingga 57%, tergantung negara.
Di samping itu, masalah struktural seperti kontrak tanpa kewajiban keamanan TI untuk kontraktor dan kurang pemahaman staf non-TI terhadap risiko keamanan siber juga menjadi sorotan utama. Secara global, hanya 15% perusahaan yang anggap langkah-langkah keamanan mereka efektif, dengan tingkat kepercayaan yang berbeda-beda di berbagai negara.
Secara keseluruhan, penting bagi organisasi dan industri untuk meningkatkan kesadaran dan langkah-langkah keamanan siber guna mengatasi risiko di rantai pasokan dan memperkuat hubungan bisnis yang tepercaya.
