Jejak Budaya Pesisir Madura Hadir di Batik Corner UK Petra
Batik Madura memiliki ciri khas visual yang kuat dengan warna-warna berani dan motif yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Karakter tersebut kini hadir di ruang kreatif Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya melalui Batik Corner.
Diluncurkan pada Sabtu (12/9/2026), Batik Corner di lantai 8 Perpustakaan UK Petra membawa konsep utama Batik Madura. Ruang ini menghadirkan identitas Batik Madura tidak hanya melalui kain atau buku, tetapi juga melalui desain interior, mural, dan penataan ruang.
Mengusung konsep budaya Madura Pesisir, inspirasi dari flora pesisir diwujudkan dalam motif bunga dan daun. Warna juga menjadi elemen penting di Batik Corner, dengan biru mencerminkan laut pesisir Madura dan kuning melambangkan kemakmuran.
Batik Corner bukan hanya sebagai dekorasi, tetapi juga sebagai tempat untuk melihat, membaca, dan memahami kekayaan budaya Jawa Timur melalui batik. Kepala Perpustakaan UK Petra, Dian Wulandari, menyatakan bahwa Batik Corner menjadi ruang edukasi dan rujukan bagi peneliti dan masyarakat yang ingin mengetahui lebih dalam tentang batik.
Konsep ruang tersebut melibatkan mahasiswa Program Studi Desain Interior UK Petra, yang merancangnya melalui mata kuliah Service Learning – Interior Design and Styling for Cultural Space. Mereka terlibat dalam proses perancangan, penataan ruang, dan pembuatan mural sebagai pengalaman belajar untuk menerjemahkan nilai budaya ke dalam desain.
Perpustakaan UK Petra kini memiliki koleksi buku fisik dan motif batik digital yang menjadi sumber pengetahuan bagi mahasiswa, peneliti, dan masyarakat yang ingin belajar lebih lanjut tentang batik. Pengembangan Batik Corner juga melibatkan Komunitas Batik Jawa Timur (KIBAS) dan Himpunan Wastraprema.
Melalui Batik Corner, Batik Madura tidak hanya dikenalkan, tetapi juga diinterpretasikan ke dalam pengalaman visual modern. Dian menegaskan pentingnya pelestarian budaya dimulai dari lingkungan terdekat, dan dengan menyatukan pengetahuan, kreativitas, dan kepedulian, warisan budaya dapat terus hidup untuk masa depan.
Sumber: beritajatim.com




