Tekanan Darah Tak Terkontrol Berdampak pada Sistem Listrik Jantung

Hipertensi dan diabetes merupakan faktor risiko utama yang dapat merusak sistem listrik jantung dan mengakibatkan terganggunya irama jantung, kata Dokter Konsultan Aritmia Eka Hospital MT Haryono, Dr. Evan Jim Gunawan. Selain tekanan darah dan gula darah tinggi, gangguan tiroid juga dapat memengaruhi kecepatan detak jantung karena aktivitas kelenjar tiroid yang tidak seimbang. Gangguan pernapasan saat tidur yang menyebabkan henti napas singkat juga dapat membebani jantung dan mengubah irama jantung. Kekurangan kalium atau magnesium dalam darah juga dapat mengganggu transmisi sinyal listrik jantung.

Menurut Dr. Evan, tubuh memiliki mekanisme peringatan yang baik terhadap perubahan irama jantung yang abnormal, dan penting untuk segera melakukan pemeriksaan dini jika mengalami hal tersebut. Namun, tidak semua kondisi irama jantung yang tidak teratur bersifat berbahaya, karena jantung memiliki sistem listrik yang kompleks untuk berdenyut secara optimal.

Aritmia terjadi ketika terjadi gangguan atau hambatan pada jalur sinyal listrik jantung, yang dapat menyebabkan irama jantung tidak beraturan. Dr. Evan menjelaskan bahwa ada dua jenis debaran jantung, yaitu fisiologis dan berbahaya. Debaran jantung fisiologis biasanya terjadi setelah konsumsi kafein berlebih, olahraga intens, atau saat mengalami emosi kuat seperti stres. Namun, debaran jantung yang berbahaya muncul tanpa pemicu jelas, bertahan lama, dan disertai gejala fisik lainnya.

Untuk menangani aritmia, teknologi medis telah menghadirkan berbagai metode pengobatan yang efektif, termasuk ablasi jantung sebagai prosedur minimal invasif. Ablasi jantung bertujuan untuk memperbaiki jalur listrik yang rusak sehingga irama jantung kembali normal tanpa perlu operasi bedah terbuka. Selain itu, penggunaan pacemaker juga telah terbukti membantu banyak orang dengan aritmia untuk kembali beraktivitas normal.

Source link